Trilogi puisi karangan saya : Tersindir, Terpinggir dan Tersingkir. Dibuat awal tahun 2021. Yang dipentaskan baru karya pertama pada 3 panggung: Penutupan Kelas Rakyat (Jakarta), Mamingser (Kampung Nusantara) dan MPLS (SMK Bakti Karya Parigi). Trilogi ini memuat wacana kekecewaan pada diri sambil melirik ke dalam sampai pada titik kejujuran. Selamat membaca karya pertama : Tersindir.

Tersindir

Subuh, aku terbangun dalam kamar yang gelap, menyalakan lampu.
Tiba tiba napasku terhenti.
Aku tersindir.

Tak seperti lampu yang sepanjang hidupnya memberi terang.
Aku malah selalu asyik dalam gelap.
Walau sudah dialiri berbagai macam daya, aku menghabiskannya dengan sia-sia.
Terangku tak sebanding dengan gelap bukan lantaran aliran terputus.
Tapi karena akunya saja yang enggan menyala.

Setelah bernapas 12 kali, aku berjalan ke kamar mandi.
Keran air kubuka.
Air menyembur memenuhi ember.
Napas kembali berhenti. Aku tersindir lagi.

Tak bisa seperti air, hidup bukan mengalir mengisi ruang kosong di bawahku.
Aku malah bergerak ke arah kerumunan yang sesak.
Aku mengejar yang orang lain kejar.
Terkadang aku ingin seperti orang lain.
Tidak seperti air, aku malah menjalar ke segala arah bukan untuk menghidupkan.
Aku pergi ke sana kemari untuk kehidupanku sendiri.
Aku semakin kasihan pada diriku.
Napasku segera kuambil lagi.

Kali ini aku tidak mau terlalu banyak berpikir.
Pikiranku tidak sedang baik-baik.
Aku berjalan ke teras rumah merasakan udara yang masuk ke hidungku.
Aku lupa seberapa banyak hela napasku.
Sambil meraba dada sendiri, aku kembali tersindir.

Kenapa aku tak bisa seperti udara yang ini…
Selalu ada dan memberi hidup tanpa pandang siapa.
Sementara yang kulakukan kadang memilah hidup dengan siapa.
Bukan saja pilih-pilih.
Lebih sering aku mencari kesenangan sesaat.
Setelah berubah menjadi duka, aku mencari kebahagiaan di tempat lain.
Begitulah buruknya diriku.

Kali ini aku mulai muak.
Aku tak mau berpikir apa-apa.
Lebih baik kembali ke tempat tidur dan bermimpi lagi.

Ai Nurhidayat
Jakarta 2021